ACETYLCYSTEIN, AGEN TERAPETIK SERBAGUNA
Ditulis oleh: apt. Dra. Eny Rochmiyati
Ditinjau secara medis oleh: dr. Kevin Wenardi
Acetylcystein atau N-acetyl-L-cystein adalah asam amino N-acetyl-L yang merupakan turunan N-asetilasi dari asam amino alami L-cystein dan merupakan asam konjugat dari N-asetil-L-sisteinat. N-asetilsistein mungkin bermanfaat sebagai terapi tambahan dalam pengobatan berbagai kondisi medis, terutama penyakit kronis. Kondisi-kondisi ini meliputi penyakit ovarium polikistik, infertilitas pria, apnea tidur, sindrom defisiensi imun yang didapat, influenza, parkinsonisme, sklerosis multipel, neuropati perifer, dampak stroke, neuropati diabetik, penyakit Crohn, kolitis ulserativa, skizofrenia, penyakit bipolar, dan gangguan obsesif kompulsif; senyawa ini juga dapat bermanfaat sebagai pengkelat untuk logam berat dan nanopartikel. N-acetylcystein dapat ditoleransi dengan baik dengan efek samping minimal.
Beberapa mekanisme kerja Acetylcystein dalam pengobatan gangguan kesehatan tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1. Mukolitik
Gugus sulfhidril pada Acetylcystein dapat menghidrolisis ikatan disulfida dalam dahak, memecah oligomer, dan membuat dahak menjadi kurang kental, sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan melalui batuk dan dibersihkan dari paru-paru.
2. Prekursor Glutation
Di dalam tubuh, L-sistein merupakan komponen pembatas (paling krusial) yang diperlukan untuk sintesis glutation. Seiring bertambahnya usia atau akibat penyakit kronis, kadar glutation alami tubuh akan menurun. Acetylcystein membantu memulihkan cadangan glutation ini untuk melawan stres oksidatif.
3. Antioksidan
Gugus sulfhidril bebas pada struktur Acetylcystein dapat langsung berinteraksi dan menetralkan radikal bebas.
4. Anti inflamasi (anti peradangan)
Dengan menekan stress oksidatif, Acetylcyctein juga menghambat jalur persinyalan inflamasi tertentu. Hal ini membantu mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi yang memicu peradangan kronis.
5. Detoksifikasi
Acetylcystein dapat melindungi terhadap hepatotoksisitas akibat overdosis asetaminofen dengan mempertahankan atau memulihkan konsentrasi glutation di hati. Glutation diperlukan untuk menonaktifkan metabolit perantara asetaminofen yang diduga bersifat hepatotoksik. Pada overdosis asetaminofen, jumlah metabolit ini yang berlebihan terbentuk karena jalur metabolisme utama (konjugasi glukuronida dan sulfat) menjadi jenuh. Acetylcystein dapat bekerja dengan mereduksi metabolit menjadi senyawa induk dan/atau dengan menyediakan gugus sulfhidril untuk konjugasi metabolit.
6. Agen Pengkelat
Acetylcystein juga sebagai agen pengkelat yang dapat mengikat logam berat dan nanopartikel berbahaya di dalam tubuh untuk membantu eliminasinya.
Sumber :
- Schwalfenberg, G.K., N-Acetylcysteine: A Review of Clinical Usefulness (an Old Drug with New Tricks), Journal of Nutrition and Metabolism, 09 Jun 2021, 2021:9949453
https://doi.org/10.1155/2021/9949453 PMID: 34221501 PMCID: PMC8211525 - https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/N-Acetyl-L-Cysteine, akses 29/05/2026